Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio secara tegas menolak upaya Teheran untuk memberlakukan pungutan tarif atas lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Selat yang menjadi jalur distribusi seperlima pasokan minyak dunia itu menjadi salah satu titik krusial dalam negosiasi perdamaian antara kedua negara.
Rubio, yang tengah melakukan kunjungan diplomatik ke kawasan Timur Tengah dengan pembukaan di Uni Emirat Arab, menyatakan sikap Washington secara gamblang. "Ini adalah jalur air internasional. Tidak ada negara yang diizinkan untuk memungut tarif atau biaya di jalur air internasional," tegasnya sebagaimana dilaporkan kantor berita AFP pada Rabu (24/6/2026). Diplomat senior AS itu juga menyatakan keyakinannya bahwa seluruh negara di kawasan tersebut akan mendukung posisi yang sama.
Perselisihan soal Selat Hormuz merupakan bagian dari dinamika yang lebih luas menyangkut negosiasi perdamaian pasca-konflik di Timur Tengah. Washington dan Teheran sebelumnya telah menandatangani kesepakatan pendahuluan untuk mengakhiri konflik serta menyelesaikan putaran pertama perundingan di Swiss. Kedua pihak kini memasuki masa negosiasi 60 hari yang mencakup pembahasan pencabutan sanksi, program nuklir Iran, serta masa depan kendali atas Selat Hormuz.
Di sisi lain, Iran menunjukkan sikap yang sama kerasnya. Negosiator utama Teheran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa kondisi di Selat Hormuz "tidak akan pernah kembali" seperti sebelum perang meletus. Meski demikian, kedua belah pihak sepakat untuk membangun jalur komunikasi guna menjaga keterbukaan dialog.
Langkah terbaru Iran semakin memperumit situasi ketika pada Selasa (23/6), pemerintah Teheran bersama Oman—negara yang berbagi wilayah Selat Hormuz—mengeluarkan pernyataan bersama. Keduanya menyatakan akan mengkaji sistem administrasi jalur perdagangan beserta biaya layanan yang akan dikenakan, seraya menegaskan kedaulatan mereka atas perairan tersebut.
Blokade yang diberlakukan Iran terhadap selat strategis ini selama konflik dengan koalisi AS-Israel sebelumnya telah memicu lonjakan harga minyak di pasar global. Namun, sejak perjanjian damai ditandatangani, arus pelayaran mulai menunjukkan pemulihan. Data dari dua platform pelacakan maritim mencatat bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz pada hari Senin pekan ini mencapai level tertinggi sejak perang dimulai, meskipun volumenya baru sedikit melampaui 40 persen dari kapasitas normal masa damai yang berkisar 120 kapal per hari.
Sementara itu, badan maritim Perserikatan Bangsa-Bangsa mengumumkan rencana evakuasi lebih dari 11.000 pelaut yang terdampar akibat blokade. Operasi tersebut akan dilaksanakan melalui koordinasi dengan Iran, Oman, dan Amerika Serikat setelah memperoleh jaminan keselamatan yang memadai dari ketiga pihak.