PARIS - Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai menunjukkan pemulihan setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepahaman untuk meredakan konflik. Data perusahaan pelacak maritim Kpler mencatat sedikitnya 36 kapal pengangkut komoditas melewati jalur strategis tersebut pada Senin (22/6/2026).
Angka itu menjadi capaian harian tertinggi sejak perang di Timur Tengah pecah pada akhir Februari. Meski demikian, jumlah tersebut masih jauh dari kondisi normal sebelum perang, ketika sekitar 120 pelayaran terjadi setiap hari di kawasan itu.
Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi global. Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan perairan internasional tersebut biasa dilalui sekitar seperlima ekspor minyak dan gas dunia.
Menurut laporan yang dikutip dari AFP, jumlah penyeberangan pada Senin masih berpotensi bertambah. Hal itu karena sebagian kapal biasanya baru terdeteksi beberapa waktu kemudian oleh sistem pelacakan maritim.
Kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut umumnya membawa komoditas penting, mulai dari minyak mentah, gas alam cair, hingga muatan curah kering seperti pupuk. Pergerakan ini menjadi sinyal awal kembalinya kepercayaan pelaku pelayaran terhadap keamanan jalur tersebut.
Peningkatan lalu lintas terjadi setelah Washington dan Teheran pada pekan lalu menyepakati nota kesepahaman untuk mengakhiri perang. Sebelum kesepakatan 14 Juni itu dicapai, lalu lintas kapal komoditas di Selat Hormuz sempat merosot tajam.
Sejak Iran menutup jalur tersebut pada 1 Maret sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat dan Israel, kurang dari 10 kapal komoditas tercatat melintas setiap hari. Namun, sejak 15 Juni, rata-rata harian naik menjadi 21 kapal, bahkan mencapai 27 kapal dalam lima hari terakhir sebelum rekor terbaru tercatat.
Dalam perundingan di Swiss, kepala negosiator Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak akan kembali sepenuhnya seperti situasi sebelum perang. Ia menegaskan jalur itu akan dikelola oleh Republik Islam Iran dengan mengacu pada hukum internasional, sebagaimana dilaporkan media pemerintah Iran pada Selasa.
Namun, status pengelolaan Selat Hormuz masih menjadi salah satu isu penting yang belum selesai. Pembicaraan lanjutan dijadwalkan berlangsung dalam dua bulan ke depan untuk merumuskan kesepakatan permanen.
Dalam pertemuan di Swiss, kedua pihak juga menyepakati peta jalan menuju perjanjian tetap dalam waktu 60 hari. Selain itu, mereka membahas mekanisme penghentian pertempuran di Lebanon antara Israel dan Hizbullah serta pembukaan jalur komunikasi untuk menjamin keselamatan kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Sebagai bagian dari paket kesepakatan yang ditujukan untuk memberi ruang pemulihan ekonomi bagi Iran, Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan pencabutan sejumlah sanksi hingga 21 Agustus. Kebijakan itu memungkinkan Teheran kembali menjual minyak dan produk terkait serta menerima pembayaran dari transaksi tersebut.
Pejabat terkait juga melaporkan bahwa penghentian pertempuran di Lebanon masih bertahan. Kesepakatan itu dipandang sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk meredakan konflik di kawasan Timur Tengah.