TEL AVIV — Pemerintah Israel dilaporkan telah menerbitkan arahan baru bagi militernya terkait batas wilayah operasi di Lebanon, setelah Amerika Serikat menyampaikan peringatan bahwa ruang gerak Tel Aviv tidak lagi dapat dilakukan secara bebas.
Menurut laporan media setempat yang dikutip Anadolu Agency pada Senin (22/6/2026), instruksi tersebut melarang pasukan Israel melakukan operasi militer di sejumlah titik strategis. Wilayah yang disebut masuk dalam daftar pembatasan antara lain ibu kota Lebanon, Beirut, serta distrik Tyre di bagian selatan negara itu.
Kebijakan pembatasan tersebut muncul setelah Washington menyampaikan pesan diplomatik kepada Israel dalam beberapa pekan terakhir. Pemerintah AS disebut menegaskan bahwa izin sebelumnya, yang memungkinkan Israel menjalankan operasi tanpa pembatasan di Lebanon, kini telah berakhir.
Seorang pejabat senior Israel yang tidak disebutkan namanya membenarkan adanya perubahan sikap dari Washington tersebut kepada Channel 13. Ia menyatakan bahwa otorisasi lama untuk bertindak tanpa batas di Lebanon sudah tidak berlaku lagi.
Media Israel itu juga melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump mulai memberlakukan pembatasan operasional terhadap Israel. Pembatasan tersebut disebut tidak hanya menyangkut Lebanon, tetapi juga dapat berdampak pada dinamika Israel di medan konflik lainnya.
Perbedaan pandangan antara Washington dan Tel Aviv mengenai situasi di Lebanon turut disorot harian Israel, Maariv. Dalam analisisnya, AS dinilai memandang eskalasi di Lebanon selatan sebagai bagian dari kalkulasi regional yang lebih luas.
Washington disebut mempertimbangkan dampak konflik terhadap stabilitas kawasan, termasuk keamanan di Selat Hormuz, fluktuasi harga energi global, isu nuklir Iran, serta kepentingan pemerintahan Trump untuk mencapai terobosan diplomatik yang dinilai penting.
Di sisi lain, pemerintah Israel dikabarkan tetap menilai keberadaan militernya di Lebanon selatan sebagai kebutuhan strategis. Tel Aviv khawatir penarikan pasukan yang terlalu cepat akan dipersepsikan sebagai tanda kelemahan dan memberi keuntungan politik maupun militer bagi Hizbullah.
Konflik berkepanjangan di Lebanon telah menimbulkan dampak kemanusiaan yang besar. Berdasarkan data resmi otoritas Lebanon, operasi militer Israel sejak 2 Maret telah menewaskan lebih dari 4.000 orang dan melukai lebih dari 12.000 lainnya.
Selain korban jiwa dan luka-luka, kekerasan yang terus berlangsung juga memaksa lebih dari satu juta warga sipil meninggalkan rumah mereka untuk mencari tempat yang lebih aman.
Hingga kini, militer Israel dilaporkan masih menguasai sejumlah area di Lebanon selatan. Sebagian wilayah tersebut telah berada di bawah pendudukan Israel selama puluhan tahun, sementara beberapa zona lainnya direbut dalam rangkaian operasi militer pada periode 2023 hingga 2024.