TEHERAN - Presiden Iran Masoud Pezeshkian kembali menegaskan bahwa kemampuan rudal balistik negaranya berada di luar meja perundingan. Ia menyebut program tersebut sebagai unsur vital pertahanan nasional Iran di tengah meningkatnya tekanan geopolitik di Timur Tengah.
Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian saat melakukan kunjungan ke Pakistan, negara yang berperan sebagai salah satu mediator penting dalam komunikasi antara Teheran dan Washington. Dikutip dari AFP, Rabu (24/6/2026), Pezeshkian menggambarkan Iran akan sangat rentan jika tidak memiliki sistem rudal.
Menurut Pezeshkian, tanpa rudal, Iran dapat mengalami nasib serupa dengan Gaza. Ia menilai Israel dan Amerika Serikat berpotensi menghancurkan negaranya tanpa memedulikan korban sipil, baik anak-anak maupun orang tua.
“Kami tidak akan pernah bernegosiasi dengan pihak mana pun, dalam kondisi apa pun, dan kapan pun, terkait kemampuan pertahanan kami,” kata Pezeshkian menegaskan sikap pemerintah Iran.
Isu rudal balistik menjadi salah satu titik sensitif dalam rangkaian upaya diplomatik untuk meredakan konflik di kawasan. Sebelum pecahnya perang terbaru, Amerika Serikat sempat mendorong agar program rudal Iran serta dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok bersenjata proksi ikut dibahas dalam negosiasi mengenai aktivitas nuklir Iran.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif turut menyoroti persoalan tersebut. Ia menyatakan bahwa kesepakatan awal yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan para mediator tidak mencantumkan pembahasan mengenai rudal balistik.
Sharif juga menilai tidak adil apabila sejumlah negara diperbolehkan memiliki rudal balistik, sementara Iran dilarang mengembangkan kemampuan serupa. Menurutnya, standar ganda dalam isu persenjataan tidak dapat diterima.
Program rudal Iran memiliki sejarah panjang sejak perang Iran-Irak pada 1980-an. Saat itu, rudal dikembangkan untuk menutup kelemahan sistem pertahanan udara Iran. Seiring waktu, Teheran terus meningkatkan jarak jangkau dan tingkat akurasi persenjataan tersebut.
Dalam konflik terbaru yang dipicu serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, Teheran disebut menembakkan ratusan rudal serta ribuan drone ke sejumlah sasaran di kawasan Teluk dan Israel. Bagi Israel, yang berjarak sekitar 1.500 kilometer dari Iran, program rudal Teheran selama ini dipandang sebagai ancaman serius terhadap keamanan nasionalnya.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam beberapa hari terakhir disebut mulai melunakkan sikap terkait isu rudal Iran. Dalam pernyataannya pada KTT G7 di Perancis pekan lalu, Trump menyebut tidak sepenuhnya adil apabila negara lain memiliki rudal, sementara Iran tidak.
Amerika Serikat dan Iran sebelumnya telah menyepakati peta jalan menuju perjanjian permanen dalam jangka 60 hari melalui pembicaraan di Swiss. Perundingan itu juga mencakup mekanisme untuk menghentikan pertempuran di Lebanon antara Israel dan Hizbullah, serta membuka jalur komunikasi demi menjamin keselamatan pelayaran komersial melalui Selat Hormuz.
Sebagai bagian dari skema bantuan ekonomi kepada Iran, Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan pencabutan sejumlah sanksi hingga 21 Agustus. Kebijakan itu memungkinkan Teheran menjual minyak dan produk terkait, sekaligus menerima pembayaran dari transaksi tersebut.
Para pejabat melaporkan bahwa jeda pertempuran di Lebanon masih berlangsung di bawah kesepakatan yang lebih luas untuk meredakan permusuhan di kawasan. Sementara itu, lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz mulai meningkat sejak Senin (22/6/2026), seiring penegasan Oman mengenai komitmennya terhadap hukum internasional dan keamanan jalur pelayaran selama proses negosiasi dengan Iran.