Indonesia dinilai membutuhkan pendekatan baru untuk menjawab persoalan keandalan pasokan listrik di tengah kondisi geografis yang tersebar di ribuan pulau. Dalam konteks itu, teknologi reaktor modular kecil atau Small Modular Reactor (SMR) disebut berpotensi menjadi salah satu solusi energi bersih yang dapat dipertimbangkan.

Pandangan tersebut disampaikan pakar energi nuklir asal Amerika Serikat, Kelle Barfield, dalam diskusi bertajuk Powering the Future: American Leadership in Clean Nuclear Energy yang digelar di @america, Jakarta Selatan, Selasa (23/6/2026). Menurutnya, SMR memiliki karakter yang lebih fleksibel dibandingkan pembangkit nuklir konvensional karena ukurannya lebih ringkas dan dapat ditempatkan lebih dekat dengan pusat kebutuhan listrik.

Barfield menjelaskan, tantangan utama Indonesia tidak hanya terletak pada kemampuan membangkitkan listrik, tetapi juga pada distribusi energi agar dapat menjangkau masyarakat di wilayah terpencil. Dengan desain yang lebih kecil, SMR dinilai dapat dimanfaatkan di daerah yang sulit terhubung dengan jaringan listrik besar maupun di lokasi industri yang membutuhkan energi dalam jumlah besar, seperti kawasan pertambangan.

“Reaktor kecil menawarkan peluang karena ukurannya lebih ringkas. Jadi, reaktor ini dapat ditempatkan di lokasi yang lebih terpencil atau di wilayah dengan kebutuhan energi yang intensif, seperti operasi pertambangan,” ujar Barfield.

Ia menilai kerja sama antara Indonesia dan Amerika Serikat dapat mempercepat kesiapan pengembangan energi nuklir di Tanah Air. Sejumlah desain reaktor dari perusahaan AS, kata dia, telah melewati tahapan evaluasi dan perizinan oleh regulator nuklir Amerika, sehingga pengalaman tersebut dapat menjadi rujukan bagi negara mitra yang ingin mengembangkan proyek serupa.

Selain transfer teknologi, kolaborasi kedua negara juga disebut dapat membuka akses Indonesia terhadap ekosistem industri nuklir yang lebih luas. Hal itu mencakup rantai pasok, penyedia komponen, jasa teknis, hingga dukungan keahlian yang diperlukan dalam pembangunan infrastruktur energi nuklir.

Meski demikian, Barfield mengingatkan bahwa persiapan tidak sebaiknya menunggu seluruh keputusan proyek selesai. Menurutnya, penguatan sumber daya manusia, skema pembiayaan, pemilihan mitra, serta kajian lokasi perlu mulai dilakukan lebih awal agar proses pembangunan dapat berjalan lebih efektif ketika investasi telah diputuskan.

Dalam aspek pendampingan, Amerika Serikat disebut telah memiliki program Foundational Infrastructure for Responsible Use of Small Modular Reactor Technology atau FIRST. Program ini membantu negara mitra membangun fondasi pemanfaatan SMR secara bertanggung jawab, mulai dari pemilihan teknologi, studi tapak, hingga peningkatan kapasitas tenaga ahli.

“Dukungan itu tidak hanya soal teknologi. Ada juga pemilihan lokasi dan sejumlah kategori lain di mana para ahli Amerika Serikat secara aktif bekerja dan ingin terus mendukung pertumbuhan Indonesia,” kata Barfield.

Barfield turut mencontohkan proyek SMR BWRX-300 di Darlington, Kanada, yang telah memasuki tahap konstruksi. Proyek tersebut ditargetkan dapat beroperasi dalam waktu sekitar tiga tahun, lebih singkat dibandingkan pembangunan reaktor nuklir konvensional berkapasitas besar yang biasanya memerlukan waktu lebih panjang.

Ia juga memperkirakan minat perusahaan energi Amerika terhadap Indonesia akan meningkat apabila proyek-proyek awal dapat menunjukkan hasil positif. Keberhasilan tersebut dinilai dapat menjadi model bagi investasi berikutnya, sekaligus mempercepat pengembangan teknologi energi bersih di Indonesia.

Di sisi lain, kerja sama pendidikan, pelatihan, serta pertukaran mahasiswa dinilai akan menjadi bagian penting dalam menyiapkan tenaga kerja lokal. Barfield menekankan bahwa kesiapan manusia dan institusi akan menentukan keberhasilan Indonesia dalam memasuki fase baru industri energi masa depan.