Menteri Luar Negeri Pakistan, Mohammad Ishaq Dar, menyampaikan perkembangan terbaru terkait proses perundingan antara Iran dan Amerika Serikat. Ia menyebut pembahasan kedua negara kini mulai mengarah pada sejumlah isu teknis, mulai dari cadangan uranium yang diperkaya hingga keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Dalam wawancara dengan Al Arabiya dan Al Hadath, sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Mehr pada Senin (22/6/2026), Dar mengatakan Teheran dan Washington sama-sama menyadari bahwa penyelesaian krisis tidak dapat ditempuh melalui konfrontasi, melainkan lewat jalur diplomatik.

Menurut Dar, proses tersebut telah menunjukkan tanda-tanda kemajuan. Ia menyebut kedua pihak berada pada fase yang menjanjikan, meski tahap lanjutan perundingan diperkirakan akan menjadi bagian paling sulit karena menyangkut isu-isu sensitif.

Salah satu pokok pembahasan yang diungkap Dar adalah cadangan uranium Iran yang telah diperkaya. Ia mengatakan Amerika Serikat sebelumnya menghendaki agar cadangan tersebut dipindahkan ke luar negeri. Namun, dalam perkembangan terbaru, para pihak disebut mulai menemukan opsi penyelesaian melalui penurunan tingkat pengayaan tanpa harus memindahkan cadangan uranium dari lokasi penyimpanannya.

Dar menjelaskan, persoalan cadangan uranium itu akan ditangani melalui salah satu dari tiga kelompok teknis yang dibentuk dalam kerangka perundingan. Kelompok-kelompok tersebut, menurutnya, membahas program nuklir Iran, aset-aset yang dibekukan, serta perkembangan situasi di Lebanon.

Ia juga mengklaim Pakistan berperan dalam memfasilitasi komunikasi antara Iran dan Amerika Serikat. Dar menyebut langkah tersebut sebagai perkembangan penting, mengingat hubungan kedua negara selama puluhan tahun terakhir diwarnai ketegangan dan minim kontak langsung.

Selain isu nuklir, Dar turut menyinggung situasi di Selat Hormuz. Ia menilai kondisi kawasan strategis itu perlu dikembalikan seperti sebelum pecahnya perang. Menurutnya, selama periode 60 hari tidak akan diberlakukan tarif apa pun di Selat Hormuz sehingga kapal-kapal dapat melintas secara bebas.

Dar mengatakan China juga mendukung prinsip kebebasan pelayaran di Selat Hormuz tanpa adanya tarif tambahan. Saat ini, kapal-kapal disebut tetap dapat beroperasi secara normal dan hanya dikenakan biaya layanan atau biaya pelayaran yang berlaku.

Dalam kesempatan yang sama, Dar menyerukan penghentian serangan-serangan yang ia nilai provokatif oleh Israel terhadap Lebanon. Ia juga menyebut Pakistan bersama Arab Saudi, Mesir, dan Turki telah mencapai kesepahaman untuk menghidupkan kembali pembahasan mengenai Jalur Gaza.

Dar menambahkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut memantau langsung jalannya proses perundingan. Ia berharap dialog Iran-AS bergerak ke arah positif karena, menurutnya, kesepakatan akan memberi manfaat bagi semua pihak dan membantu meredakan dampak ekonomi akibat konflik.

Meski demikian, Dar mengakui pembahasan berikutnya tidak akan mudah. Isu sanksi terhadap Iran, kata dia, tetap akan dibahas secara bilateral antara Teheran dan Washington.

Hingga berita ini disusun, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Iran maupun Amerika Serikat yang mengonfirmasi rincian yang disampaikan Menteri Luar Negeri Pakistan tersebut. Informasi mengenai perkembangan perundingan sejauh ini masih bersumber dari keterangan Mohammad Ishaq Dar dan belum diumumkan bersama oleh pihak-pihak yang terlibat langsung.