Limbah pelepah kelapa sawit yang selama ini kerap dipandang sebagai sisa perkebunan ternyata menyimpan peluang baru di sektor energi. Hasil penelitian menunjukkan material tersebut dapat diolah bersama limbah styrofoam menjadi minyak pirolisis yang berpotensi digunakan sebagai campuran bahan bakar kapal.

Temuan ini dikembangkan melalui riset yang melibatkan Pusat Riset Kimia Molekuler Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Peneliti BRIN, Dieni Mansur, menjelaskan bahwa pemanfaatan limbah organik dan plastik tersebut tidak hanya menawarkan sumber energi alternatif, tetapi juga membuka kemungkinan perbaikan kualitas bahan bakar kapal yang telah digunakan saat ini.

Menurut Dieni, campuran minyak pirolisis dari pelepah sawit dan styrofoam mampu membantu menurunkan tingkat kekentalan atau viskositas bahan bakar. Kondisi ini dinilai penting karena bahan bakar kapal berat, seperti high sulfur fuel oil, umumnya membutuhkan proses pemanasan sebelum dapat digunakan secara optimal pada mesin kapal.

“Yang membuat penelitian ini penting bukan hanya karena menghasilkan bahan bakar alternatif, tetapi karena campuran bahan bakar tersebut mampu memperbaiki kualitas bahan bakar kapal yang sudah beredar saat ini,” ujar Dieni, sebagaimana dikutip dari laman BRIN.

Penurunan viskositas membuat aliran bahan bakar menjadi lebih lancar. Dengan demikian, kebutuhan energi tambahan untuk proses pemanasan dapat ditekan, sehingga penggunaan bahan bakar pada operasional kapal berpeluang menjadi lebih efisien.

Dieni menambahkan, formula hasil riset tersebut tetap diarahkan agar sesuai dengan standar bahan bakar kapal. Di sisi lain, pemanfaatan limbah perkebunan dan plastik juga dinilai memberi manfaat lingkungan karena mengurangi material buangan yang selama ini menjadi beban pengelolaan.

“Formula ini mampu mempertahankan kualitas bahan bakar sesuai standar bahan bakar kapal sekaligus memberikan manfaat lingkungan yang signifikan,” katanya.

Riset ini sekaligus memperlihatkan bahwa inovasi energi tidak selalu harus bergantung pada sumber daya baru. Limbah yang tersedia dalam jumlah besar, baik dari sektor perkebunan maupun konsumsi plastik, dapat diolah menjadi produk bernilai tambah apabila didukung teknologi yang tepat.

“Solusi energi masa depan tidak selalu harus berasal dari sumber baru, tetapi bisa juga berasal dari limbah yang selama ini kita abaikan,” ujar Dieni.

Dengan temuan tersebut, pelepah sawit berpotensi menjadi salah satu bahan baku pendukung energi alternatif untuk sektor pelayaran. Meski demikian, pengembangan lebih lanjut tetap diperlukan agar pemanfaatannya dapat diterapkan secara luas, aman, dan ekonomis dalam skala industri.