Gelombang panas yang melanda sebagian besar wilayah Prancis memicu lonjakan permintaan terhadap perangkat penyejuk ruangan. Di Paris, warga terlihat mengantre di toko elektronik dan peralatan rumah tangga untuk membeli kipas angin berdiri, pelembap udara, hingga pendingin udara.
Antrean pembeli tampak terjadi di salah satu cabang Darty di Paris pada Selasa (23/6/2026), ketika suhu udara terus meningkat. Banyak warga berupaya mencari perlengkapan tambahan untuk meredam dampak cuaca panas yang semakin terasa di permukiman, perkantoran, dan ruang publik.
Kondisi tersebut terjadi setelah badan meteorologi nasional Prancis, Météo-France, memperpanjang peringatan panas. Otoritas cuaca juga menaikkan jumlah wilayah yang masuk status kewaspadaan tertinggi dari 49 menjadi 54 departemen, dari total 101 departemen di seluruh negeri.
Cuaca ekstrem ini turut berdampak pada sektor pendidikan. Ribuan sekolah di berbagai daerah dilaporkan menutup sementara kegiatan belajar mengajar atau menyesuaikan jadwal sekolah demi mengurangi risiko kesehatan bagi siswa, guru, dan tenaga kependidikan.
Di wilayah barat daya Prancis, kota Bordeaux diperkirakan mencatat suhu hingga 42 derajat Celsius. Sementara itu, Paris diprediksi mengalami suhu sekitar 38 derajat Celsius, jauh di atas kondisi normal untuk periode yang sama.
Gelombang panas ini menambah kekhawatiran terhadap tren pemanasan di Eropa. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dalam laporan yang dirilis April lalu menyebutkan bahwa suhu di benua tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat rata-rata global, sehingga menjadikan Eropa salah satu kawasan paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.