Tiga dari empat bank besar Indonesia telah merilis laporan kinerja periode lima bulan pertama 2026, yakni Bank Central Asia (BBCA), Bank Mandiri (BMRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI). Data menunjukkan dinamika menarik di sektor perbankan nasional, dengan Himbara—sebutan untuk bank milik negara—mencatatkan pertumbuhan yang mengungguli bank swasta terbesar.
Pertumbuhan kredit menjadi sorotan utama dalam laporan periode 5M26 ini. BMRI dan BBNI membukukan kenaikan pinjaman masing-masing 21% dan 25% secara year-on-year hingga Mei 2026. Apabila mengesampingkan pinjaman kepada PT Agrinas Pangan Nusantara yang menembus Rp55 triliun per Maret 2026, pertumbuhan kredit kedua bank milik negara ini masih solid di level 16% dan 17% YoY. BBNI terbukti lebih efektif mengkonversi ekspansi kredit menjadi pendapatan bunga bersih, didukung komposisi Dana Pihak Ketiga yang lebih seimbang antara CASA dan deposito berjangka. Sementara itu, pertumbuhan DPK BMRI lebih bergantung pada deposito berjangka.
Di sisi lain, BBCA mengambil jalur konservatif dengan pertumbuhan kredit hanya 5% YoY per Mei 2026, masih di bawah proyeksi manajemen yang menargetkan 8-10% YoY untuk tahun 2026. Strategi berbeda ini mencerminkan pendekatan risiko yang beragam antara bank milik negara dan bank swasta di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu.
Menariknya, dampak kenaikan harga minyak akibat konflik AS-Iran belum terlihat pada kinerja perbankan hingga Mei 2026. Posisi kredit ketiga bank justru masih tumbuh positif secara bulanan: BMRI naik 3%, BBNI naik 4%, dan BBCA naik 1% dari Maret ke Mei 2026. Pembukuan beban provisi bulanan juga tidak menunjukkan peningkatan signifikan. Padahal, dalam kondisi pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi, sektor perbankan biasanya cenderung memperlambat penyaluran kredit dan memperbesar provisi sebagai langkah antisipasi.
Absennya pola konservatif ini mengindikasikan dua kemungkinan: kondisi makroekonomi domestik lebih tangguh dari perkiraan, atau optimisme pelaku industri bahwa situasi ekonomi akan membaik dalam waktu dekat. Namun, investor tetap perlu mengawasi beberapa faktor kunci dalam periode selanjutnya, terutama kondisi likuiditas perbankan, tren biaya dana pasca-kenaikan BI Rate sebesar 100 basis point dalam sebulan terakhir, serta ruang kenaikan suku bunga kredit. earnings call kuartal kedua 2026 akan menjadi momen penting untuk mendapatkan klarifikasi dari manajemen mengenai arah kebijakan provisi dan ekspansi kredit ke depan.