Pemerintah Indonesia mengambil langkah strategis dengan menyiapkan paket stimulus ekonomi bernilai lebih dari Rp 26 triliun sebagai respons terhadap lonjakan harga energi yang dipicu oleh konflik Timur Tengah. Keputusan ini merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk menjamin keberlangsungan perekonomian masyarakat di tengah tekanan inflasi global.
Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa stimulus tersebut akan diimplementasikan pada semester kedua tahun 2026. Program ini difokuskan untuk mendukung kelompok ekonomi menengah yang paling terdampak oleh kenaikan harga kebutuhan pokok dan energi.
"Sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo Subianto, pada kesempatan ini kami akan mengumumkan stimulus ekonomi di semester kedua. Sebagian besar sudah disampaikan sesudah rakortas dan juga sebagian lagi merupakan arahan daripada Bapak Presiden," ujar Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta.
Stimulus tersebut dibagi ke dalam tiga pilar utama, yaitu stimulus dan insentif, program magang dan vokasi, serta bantuan pangan. Secara rinci, terdapat delapan kebijakan yang akan diterapkan, meliputi tarif khusus PPh Final Royalti Penulis, diskon transportasi dan insentif transportasi udara untuk periode libur sekolah, diskon transportasi menjelang Natal dan Tahun Baru, insentif impor LPG dan bahan baku plastik, program magang, pelatihan vokasi, bantuan beras 10 kilogram, dan bantuan stabilisasi harga serta pasokan pangan kedelai.
Paket stimulus ini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian kondisi global.